5 Faktor Penyebab Buruknya Sistem Pendidikan di Indonesia

5 Objek Wisata Cilegon Yang Wajib Dikunjungi
April 28, 2016
8 Pertanyaan Yang Sering Ditanyakan Seputar Kafein
May 9, 2016

Pendidikan merupakan pilar utama kesuksesan suatu bangsa. Jika sistem pendidikannya baik, maka akan menghasilkan generasi penerus yang baik pula. Sebagai negara berkembang, bisa dibilang sistem pendidikan di Indonesia masih lebih rendah dari negara-negara tetangganya seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darusalam. Saat ini Indonesia berada di peringkat 69 dari 127 negara dalam Education Development Index.

Sistem pendidikan Indonesia yang cenderung berpusat di kota-kota besar saja, membuat banyak anak-anak Indonesia yang belum tersentuh pendidikan yang layak. Hal ini semakin menguatkan buruknya sistem pendidikan kita saat ini.

Ada banyak faktor yang membuat sistem pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah meski sudah 70 tahun merdeka. Berikut faktor-faktor tersebut :

  1. Sistem pembelajaran hanya terpaku pada buku

Sistem pembelajaran di Indonesia hingga saat ini masih terpaku pada buku paket yang sudah ditentukan oleh masing-masing sekolah berdasarkan kurikulum yang berlaku. Meskipun buku memang sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar, namun tidak seharusnya pembelajaran hanya terpusat pada buku saja karena pelajar pun memerlukan wawasan yang lebih luas dari isi dalam buku tersebut. Sudah seharusnya sistem pembelajaran seperti ini diubah  agar para pelajar dapat lebih berkembang.

  1. Pembelajaran dengan ‘Metode Ceramah’

Metode ceramah ini merupakan metode pembelajaran favorit para guru di Indonesia. Karena metode ini adalah metode termudah dan tidak memerlukan persiapan yang banyak. Bagi Anda yang masih bingung apa metode ceramah ini, coba ingatlah masa sekolah Anda dulu. Pernahkan guru Anda mengajak Anda melakukan aktivitas belajar di luar ruang kelas? Atau pernahkan guru Anda melakukan metode belajar yang menurut Anda menyenangkan sehingga membuat Anda bersemangat untuk belajar?

Hampir bisa dipastikan, sebagian besar anak Indonesia akan mengatakan tidak. Hal ini karena para guru hanya sekedar menjelaskan materi pelajaran di depan kelas dan terkadang sifatnya hanya satu arah dari guru tersebut ke siswa. Jarang sekali ada guru di Indonesia yang menggunakan metode lain untuk anak didiknya. Padahal metode ceramah seperti ini cenderung membosankan sehingga para siswa akan mudah merasa bosan dan tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik.

Metode ceramah ini sebenarnya metode yang baik, namun jika porsinya tidak tepat justru akan memperburuk pemahaman siswa. Lebih baik jika metode ceramah ini dilengkapi dengan metode lain seperti diskusi sehingga guru akan lebih paham akan kesulitan belajar yang dialami siswanya. Metode diskusi ini bisa membuat siswa belajar berkomunikasi dan menyampaikan pendapat.

  1. Kurangnya sarana belajar

Fasilitas turut menunjang proses kegiatan belajar mengajar. Jika keinginan siswa untuk belajar sudah tinggi namun tidak didukung oleh fasilitas maka akan sia-sia. Saat ini di Indonesia, ketersediaan sarana prasarana tersebut belum merata. Banyak sekolah daerah terpencil yang belum memiliki fasilitas yang memadai bagi para siswanya. Tentunya hal ini menghambat pembelajaran yang berlangsung di sekolah tersebut.

Hal ini sangat berbeda dengan sekolah di kota besar yang sebagian besar fasilitas penunjangnya seperti perpustakaan dan laboratorium sudah terpenuhi. Hingga kini pemerataan fasilitas penunjang pendidikan Indonesia bisa mendapatkan pendidikan yang sama baiknya.

  1. Tidak digunakannya metode pertanyaan terbuka

Apa sebenarnya metode pertanyaan terbuka ini?

Metode pertanyaan terbuka merupakan metode ujian dengan cara memberikan soal, tetapi pelajar/mahasiswa boleh menjawab soal tersebut dengan membaca buku. Metode ini telah diterapkan oleh negara Finlandia dan menjadi salah satu ciri metode pendidikan di sana. Mungkin Anda bertanya kenapa harus mengacu pada sistem pendidikan di Finlandia? Karena saat ini Finlandia masih menduduki peringkat pertama dalam hal kualitas pendidikan sehingga tidak ada salahnya jika Indonesia sedikit banyak belajar dari Finlandia.

Hingga kini, Indonesia masih belum berani untuk menerapkan metode pertanyaan terbuka ini karena ada kekhawatiran banyak pelajar/mahasiswanya yang menyontek. Selain itu banyak tenaga pendidik yang masih merasa berat membuat soal-soal yang sifatnya terbuka. Hal ini membuat sistem ujian di Indonesia sebagian besar masih berkutat pada pilihan ganda.

Metode pertanyaan terbuka memang sistem yang masih asing di Indonesia. Padahal metode ini memungkinkan siswa lebih memiliki daya berpikir kreatif dan bisa mengembangkan ilmu yang telah diperolehnya. Kebiasaan menjawab soal dengan cara menghapal sudah sering dilakukan oleh siswa di Indonesia. Padahal cara seperti ini cenderung membebani mereka karena mereka seolah dituntut untuk mengingat sesuai yang ada di buku sementara daya ingatnya terbatas.

Penerapan metode pertanyaan terbuka ini memang tidak dapat diterapkan secara instan karena dapat membuat siswa kaget dengan perubahan yang cukup drastis. Namun, tidak ada salahnya jika Indonesia mulai mencoba menerapkan metode ini sedikit demi sedikit sehingga pelajar Indonesia bisa terdorong untuk memahami buku dan ilmu secara lebih luas.

  1. Maraknya budaya menyontek

Menyontek mungkin sudah tidak asing lagi bagi para pelajar di Indonesia. Untuk menghilangkan kebiasaan ini pun tidak mudah karena diperlukan pembentukan karakter dengan cara yang tepat sehingga membuat para pelajar paham akan kerugian dari kebiasaan buruk itu. Penghapusan budaya mencontek pun memerlukan sumbangsih para orang tua agar mereka menanamkan pendidikan karakter pada anak-anaknya sedini mungkin.

Di negara-negara maju, kebiasaan menyontek sangat jarang terjadi karena pertanyaan-pertanyaan dalam ujian biasanya bersifa objektig sehingga pertanyaan tersebut hanya bisa dijawab sesuai pengetahuan yang dimiliki oleh siswa yang bersangkutan.

Saat ini, beberapa institusi pendidikan di Indonesia sudah mulai menerapkan aturan yang ketat mengenai kebiasaan menyontek ini. Salah satunya adalah Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Di kampus ini, mahasiswa yang ketahuan menyontek akan langsung terkena sanksi Drop Out (DO). Meskipun aturan ini terkesan ekstrim,namun efektif untuk memusnahkan budaya menyontek. Jika semua kampus menerapkan sistem DO ini, maka 5 atau 10 tahun kedepan Indonesia bisa memiliki generasi-generasi penerus bangsa yang profesional dan amanah.

Itulah 5 faktor yang membuat pendidikan di Indonesia saat ini masih terpuruk. Sudah seharusnya, kita sebagai penerus bangsa turut serta untuk memajukan mutu pendidikan di negeri tercinta ini. Meski mungkin kita tidak dapat turut andil dalam perubahan sistem pendidikan secara langsung, namun kita dapat mengubah pola pikir yang bisa membuat kualitas pendidikan menjadi rendah. Selain itu, bagi Anda yang sudah memiliki anak, Anda dapat berkontribusi dengan menanamkan nilai-nilai moral dan pendidikan karakter pada anak-anak Anda sedini mungkin karena karakter seorang anak terbentuk pertama kali di dalam lingkungan keluarganya.

sw5-2

Dikutip dari : berkuliah.com

Air Minum Quelle – Freshness Everyday

Informasi dan Pemesanan Hubungi

Telp : (0254)315003 / 085107094222

Email : kdtquelle@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *